Diam-diam

Dalam diam aku mendoakanmu
Dalam diam aku mencintaimu
Dalam diam aku merangkai-rangkai harapanku

Aku tidak seperti kamu
Pujangga yang mampu membahasakan setiap rasa

Aku tidak seperti kamu
Seorang bijak yang mampu mengartikan setiap detik

Pun aku tidak seperti kamu
Perangkai kata selembut awan setajam pedang

Aku adalah pendiam yang sakit
Aku diam hingga mau mati
Akan selalu kudaraskan doa untukmu hingga jantungku berhenti..

Menyedihkan ketika di zaman sekarang ini, makin banyak manusia yang menjadikan manusia lainnya sebagai objek belaka.

Stasiun Cirebon..
Selalu kulewati tempat ini dalam tiap perjalananku..
Mataku menangkap perjuangan hidup..
Dini hari..o

Stasiun Cirebon..
Selalu kulewati tempat ini dalam tiap perjalananku..
Mataku menangkap perjuangan hidup..
Dini hari..o

But love is much like a dam: if you allow a tiny crack to form through which only a trickle of water can pass, that trickle will quickly bring down the whole structure, and soon no one will be able to control the force of the current.
Love is a trap. When it appears, we see only its light, not its shadows.

I’m going to fight for your love. There are some things in life that are worth fighting for to the end. You are worth it.

— Paulo Coelho

S.O.L.O

Jika Katon Bagaskara begitu terkesan dengan Yogyakarta, sehingga tercipta lah sebuah lagu yang begitu legendaris,
Izinkanlah saya terkesan dengan kota Solo.
Saya tidak bisa menciptakan sebuah lagu tentang kota Solo, Saya hanya bisa menuliskan kenangan,
Yang terjadi satu demi satu,
Selembar demi selembar..
Meninggalkan senyum di bibir dan hangat di hati..
Jalan-jalan yang pernah saya lalui di kota Solo,
Jika saya harus melewatinya lagi,
Tak jarang melengkungkan bibir.
Semacam senyum-senyum sendiri.
Saat itulah di kepala saya sedang berkelebat rangkaian episode dimana saya menjadi pemerannya.
Kampus UNS dan Rumah Sakit Dr. Moewardi, tempat saya menimba ilmu dan pendidikan, diselingi berbagai hasrat, kerinduan, persahabatan, dan profesionalitas.
Ibu-ibu penjaja tengkleng di Pasar Klewer pernah menjadi saksi ketertarikan saya akan kota Solo.
Sepasang kakek nenek penjual serabi mojosongo pernah menghabiskan malam bersama saya yang asyik menikmati ‘serabi romantis’ sambil mengagumi perwujudan ‘janji dalam suka dan duka sampai maut memisahkan’.
Gladak Langen Bogan, penuh warna, penuh makna, dimana beberapa pertemuan dan perpisahan harus dirayakan disana.
Angkringan alias wedangan yang kami sebut kafe tiga ceret, tempat bernaung bagi anak kos-kosan yang sedang pas-pasan, namun ingin hura-hura.
Shi Jack Loji Wetan, saksi bagi penggemar yang bertemu idolanya, menghapus batas ketidakmungkinan.
Gua Maria Mojosongo, samudera yang menampung berbagai rasa, syukur dan air mata, cinta kasih dan harapan.
Solo Square, dimana kegalauan menemukan peraduannya.
Becak, alat transportasi romantis yang menggugah hati, membelah jalanan dengan bersahaja.
Stasiun, tempat bernaung bagi yang sedang mencinta, melahirkan bahagianya pertemuan, pun menggoreskan perihnya perpisahan. Saksi dari berbagai ekspresi, bersalaman, berpelukan, dan berciuman, yang masing-masing punya cerita tersendiri bagi pelakunya.
Dan berbagai tempat tersembunyi, yang secara sembunyi-sembunyi memberi arti, entah sejak kapan memasuki hati dan mengukir grafiti pada lobus hati..
Dan akhirnya, makam ayah saya.
Dengan demikian, sejauh apa pun saya pergi melangkah kesana kemari, saya akan kembali ke Solo, bertemu dengan yang paling berarti, dan mengenang semua yang pernah berarti.

Senja Utama Solo,
Dari Solo menuju Jakarta
5 Mei 2012

Pada mulanya adalah langkah, lalu berjalan, mengelana, dan berziarah.
Inilah penggalan jejak dari peziarahan itu.
Sepenggal-sepenggal, mungkin itulah yang membuat jejak -jejak itu beragam.
Tetapi, semuanya adalah rangkaian dari sebuah perjalanan.
— Heribertus Heri Setyawan
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian — Pramoedya Ananta Toer

Bukan Tersakiti

Aku menangis bukan karena tersakiti

Air mata bukan hanya kesengsaraan

Bukan perih yang menyayat-nyayat

Tetapi pedih yang membahagiakan

Akan ku kecap rasa yang meluap

Akan kupuisikan rindu yang tak terbahasakan

Harus ku kunci derap hatiku rapat-rapat

Sampai suatu saat Tuhan pun menjawabnya

Dan sambil menunggunya,

yang aku tahu adalah

Walau harapan dimatikan,

cintaku tak akan pernah mati sebelum aku mati

Kaki kami,
yang telah berjalan kesana-kemari,
Lalu kami bertemu disini,
sejenak beristirahat,
bersama para sahabat..
Perasaan kami satu, senasib..
Tidak perlu berdekatan setiap waktu,
kami hanya ingat,
kami akan tetap bersama-sama,
dalam semangat,
dalam hati..
Kami adalah:
dr. Linda - dr. Winda - dr. Nisa - dr. Suwardi - dr. Agnes
:)
(Kali Wanggar, Nabire. 30 September 2011)

Kaki kami,

yang telah berjalan kesana-kemari,

Lalu kami bertemu disini,

sejenak beristirahat,

bersama para sahabat..

Perasaan kami satu, senasib..

Tidak perlu berdekatan setiap waktu,

kami hanya ingat,

kami akan tetap bersama-sama,

dalam semangat,

dalam hati..

Kami adalah:

dr. Linda - dr. Winda - dr. Nisa - dr. Suwardi - dr. Agnes

:)

(Kali Wanggar, Nabire. 30 September 2011)

mari belajar

mari belajar